Media informasi dan edukasi asuransi syariah indonesia. Asuransi jiwa, kesehatan, penyakit kritis, pensiun, dana pendidikan Asuransi syariah terbaik dengan Profesional Services untuk perencanaan keuangan keluarga Anda

#16 of 21 | prev product Prev - Next next product
printer email

product arrow Cara Menghitung Kebutuhan Asuransi Jiwa (1)

KOMPAS.com -  The walls of Babylon had once again repulsed a mighty and victorious foe determined to loot her rich treasures and to ravish and enslave her citizens.Babylon endured century after century because it was fully protected. It could not afford to be otherwise. The walls of Babylon were an outstanding example of man's nedd and desire for protection. (The Richest Man in Babylon, halaman 92-93)

Kata kunci dalam keamanan di Babylonia kota kuno yang makmur  adalah perlidungan yang memadai. Kalaupun Babylonia memiliki tembok, tetapi tidak cukup tebal dan kuat untuk melindungi warganya, tetap saja akan mengalami kesulitan.

Asuransi jiwa merupakan salah satu perlindungan yang dapat kita cari. Dengan membeli premi asuransi, kita melindungi jiwa kita. Sehingga jika terjadi risiko terhadap pencari nafkah, pasangan yang ditinggalkan hidupnya tidak terlalu berubah drastis.

shutterstock Ilustrasi
 

Kembal ke kisah Babylonia, perlindungan memadai adalah hal penting. Perlindungan, jika tidak memadai, tidak mencukupi tidak akan berarti apa-apa. Misalkan Anda seorang pencari nafkah utama dalam keluarga, memiliki dua anak balita dan pasangan yang tidak bekerja, pengeluaran sebesar Rp 5 juta per bulan.

Anda sudah memiliki polis asuransi dengan pertanggungan Rp 250 juta. Apakah cukup ? Tentu tidak. Asal tahu saja, uang pertanggungan asuransi yang hanya Rp 250 juta itu akan habis dalam waktu 50 bulan saja atau sekitar empat tahun dengan asumsi pengeluaran tetap sebesar Rp 5 juta per tahun.

Setelah itu ? Bagaimana dengan kebutuhan biaya sekolah anak, biaya hidup sehari-hari ? Sebagian besar orang yang membeli polis asuransi mengasuransikan dirinya lebih kecil dari kebutuhannya (underinsured).

Oleh sebab itu, penting sekali untuk mengetahui bagaimana menentukan uang perta

nggungan yang mencukupi. Sehingga dengan uang pertanggungan tersebut dapat digunakan oleh keluarga setidaknya hingga anak terkecil sudah dapat mandiri dan menghidupi dirinya sendiri.

Ada beberapa cara untuk menghitung seberapa besar sebenarnya perlindungan yang Anda perlukan. Satu persatu, cara itu akan dibahas dalam beberapa tulisan di bawah ini.

Cara pertama dikenal dengan metoda human live value (HLV). Memang benar, nyawa seseorang tidak dapat dinyatakan dengan jumlah nominal tertentu, seberapapun besarnya. Tetapi cara ini sangat membantu untuk menentukan berapa besar penghasilan yang harus diproteksi.

HLV dihitung berdasarkan penghasilan bulanan, tahunan, atau pengeluaran bulanan, tahunan dikalikan lamanya perlindungan yang diperlukan. Misalnya, seseorang berusia 35 tahun berpenghasilan bulanan Rp 5 juta dengan pasangan dan anak usia lima tahun.

Keluarga ini memerlukan asuransi selama 20 tahun. Mengapa hanya 20 tahun ? Diasumsikan anaknya yang saat ini berusia 5 tahun, 20 tahun yang akan datang berusia 25 tahun dan sudah dapat menghidupi dirinya sendiri.

Berdasarkan metode tersebut, kebutuhan proteksi asuransi jiwa yang harus dimiliki adalah Rp 5 juta per bulan x 12 bulan = Rp 60 juta per tahun x 20 tahun = Rp 1, 2 miliar. Jadi, jika terjadi sesuatu pada orang tersebut, dan dia tak dapat menghasilkan uang lagi, harus ada proteksi sebesar Rp 1,2 miliar agar keluarganya tetap dapat hidup layak seperti saat dia masih ada, selama 20 tahun.

Semakin tinggi nilai proteksi, semakin tinggi pula premi yang harus dibayarkan. Jika nilai proteksi Rp 1,2 miliar tersebut dirasakan mahal, dapat pula dihitung berdasarkan rumus sama,tetapi menggunakan pengeluaran bulanan. Dalam tulisan lain, akan dibahas tentang memilih jenis asuransi sesuai dengan kebutuhan premi kita.

( sumber : http://lipsus.kompas.com/asuransi/read/2011/10/25/11524538/Mari.Hitung.Kebutuhan.Asuransi.Jiwa )

 

Cara Menghitung Kebetuhan Asuransi Jiwa (2)

Cara Menghitung Kebetuhan Asuransi Jiwa (3)